Tokoh Tripama 1 : Bambang Sumantri

Oleh : Kamajaya – UP Indonesia

PATIH SUWANDA (BAMBANG SUMANTRI)

Bambang Sumantri yang disebut pula Raden Sumantri adalah putera sulung Bagawan Suwandagni di pertapaan Ardisekar, yang disebut pula Ngadisekar. Sebutan ’bam­bang’ diberikan karena ia putera pendeta di gunung, sedang sebutan ’raden’ melekat pada dirinya, karena ia termasuk seorang satria.

Di kemudian hari setelah ia diterima mengabdi di ne­geri Maespati bergelar Patih Suwanda.

Menurut silsilahnya, Bagawan Suwandagni adalah ke­turunan Batara Surya.

Bambang Sukasarana

Putera Bagawan Suwandagni ada dua orang, semuanya lelaki. Yang tua bernama Bambang Sumantri yang rupanya cantik serta sempurna, pandai menggunakan berbagai sen­jata dan memiliki senjata ampuh yang disebut senjata Cakra.

Putera yang kedua bernama Bambang Sukasarana. Se­jak lahir ia bermuka raksasa dan penuh cacat dan cela. Oleh karenanya bayi itu dibuang ke tengah hutan, di tempat jin mambang peri dan setan. Maksudnya agar bayi Sukasarana mati dimakan binatang buas atau diganyang setan peri pe- rayangan. Ternyata sang bayi itu tidak mati, namun tidak tumbuh menjadi besar. Ia tetap kecil sehingga disebut rak­sasa kerdil atau buta bajang.

Seluruh tubuh Sukasarana penuh cacat. Kulitnya kriput, warnanya hitam pekat. Giginya kecil-kecil runcing, ta­ringnya berbisa ampuh sekali, lebih ampuh dari bisa ular naga. Punggungnya bungkuk, pundaknya merojol, pantat­nya menonjol ke atas, jalannya pengkor, perutnya buncit, pusatnya burut. Pokoknya, rupa dan bentuk Sukasarana serba cacat, buruk rupa dan buruk bentuk, segala yang bu­ruk menjadi satu di dalam tubuhnya.

Karena sejak bayi ia dibuang ke dalam hutan yang penuh bahaya, maka kehadirannya di hutan bertahun-tahun merupakan tapabratanya. Sebagai bayi ia tidak mati di­makan binatang buas atau diganyang setan brakasakan, itu menandakan bahwa ia kebal tanpa tara. Sukasarana me­mang sakti dan memiliki berbagai ilmu gaib yang luar biasa. Ia pandai terbang di angkasa tanpa sayap. Semua setan, hantu, mambang dan peri menganggap sang Sukasarana sebagai raja sesembahannya.

Ia sangat mencintai saudara tuanya, Bambang Sumantri. Di malam hari ia datang di pertapaan ayahnya di Ardi- sekar untuk bertemu dengan ayahanda dan kakandanya. Ia menyadari, bahwa dirinya serba buruk, oleh karenanya se­belum matahari terbit ia tentu kembali ke hutan kediaman­nya. Ia serba menyadari keadaan dirinya dan ia tak suka kakandanya menanggung malu karena beradik buruk serba cacat.

 

Sumantri mengabdi

Setelah berusia dewasa, Bambang Sumantri berpamitan ayahnya hendak mengabdi kepada Prabu Aijunawijaya di negeri Maespati.

Bambang Sumantri berniat mengabdi kepada Prabu Aijuna­wijaya direstui oleh Bagawan Suwandagni dengan berpesan, ’’Anakku, niatmu itu tepat sekali. Setelah anda dewasa, tibalah waktunya meninggalkan hidup di pegunungan. Tinggallah di kota, namun demikian janganlah anda sepi prihatin. Artinya, hendaklah anda selalu bertapabrata meski sekedarnya. Bertapabrata di tengah-tengah pergaulan hidup disebut ’tapa ramai’, yakni bertapa di tengah-tengah alam yang ramai. Bertapa sambil melaukan kewajiban bekeija beramal kepada masyarakat.

Ketahuilah Sumantri anakku, mengabdi raja amatlah sulit. Anda tak boleh ragu-ragu, harus berketetapan hati dan setia kepada gustimu serta patuh melaksanakan perintahnya. Raja disebut sebagai wakil Dewa, artinya ia memegang tata hidup dengan adil bijaksana. Anda wajib mengabdi dengan sepenuh keikhlasan, agar tidak menemui kesulitan lahir dan batin.

Tekad rukun damai dengan sesama manusia harus anda tanamkan di dalam sanubarimu dan anda laksanakan di dalam hidup sehari-hari. Itulah tekad selamat. Sifat itu harus disertai dengan kesetiaan dan kesanggupan melaksanakan tugas. Kesanggupan sama artinya dengan janji yang tak boleh diingkari, sekalipun anda harus menempuh kematian.

Tunjukkanlah kemampuanmu bekeija menyelesaikan tugas. Curahkanlah segala perhatian dan kepandaian di dalam tugasmu. Dewa menyertaimu. Berangkatlah anakku, aku iringi dengan puji doa, semoga tercapai cita-citamu”.

Setelah mendengar pesan ayahandanya Bambang Sumantri lalu menyembah dan mundur dari hadapannya. Dengan langkah yang tetap ia meninggalkan pertapaan Ardi- sekar, tanpa menoleh ke belakang, laju masuk hutan belukar sambil menyandang senjata Cakra, pusakanya yang amat ampuh.

Siang malam ia berjalan tanpa berhenti, tak takut akan serangan binatang buas. Ia beijalan meneijang hutan belu­kar, turun naik bukit dan jurang-jurang curam, melintasi sungai kecil dan besar. Bambang Sumantri berjalan tanpa mengeluh sedikitpun.

Niatnya dilaksanakan dengan tekad yang bulat, tak akan mundur oleh halangan, tak akan menyingkir karena rintang­an.

Demikianlah perjalanan Bambang Sumantri menuju negeri Maespati. Tak ada yang melintas sedikitpun dalam pikirannya kecuali niat bulatnya akan menghadap Prabu Aijunawijaya. Tidak pula ingat kepada adiknya, Bambang Sukasarana yang merasa kehilangan jejak kakandanya.

Di pertapaan Ardisekar terjadi peristiwa yang amat mengharukan. Bambang Sukasarana datang malam-malam hendak melepaskan rindunya kepada kakandanya, Bambang Sumantri. Alangkah kecewa hatinya, bahwa ia tak menemu­kan kakandanya di pertapaan. Bertanya kepada ayahanda­nya ia tidak menerima jawaban yang memuaskan hatinya. Dari cantrik, para murid dan sang bagawan tidak pula ia memperoleh keterangan yang jelas tentang kakandanya ter­cinta. Maka dalam puncak kemarahannya ia berkata keras, ’’Semua orang berkata tak tahu ke mana kakang Sumantri pergi. Semuanya bohong! Awaslah, kalau aku tak diberi tahu ke mana kakang Sumantri pergi, pertapaan ini akan ku­hancurkan. Awas! Ayo, semua orang, beritahulah sekarang kepadaku ke mana kakang Sumantri pergi.”

Kata-kata kemarahannya yang diucapkan keras dengan berteriak-teriak menimbulkan kekhawatiran ayahandanya. Sang ayah tahu kesaktian Bambang Sukasarana yang me­mang mampu menghancurkan pertapaan dalam sekejap mata. Maka sang ayah tergopoh-gopoh menghampiri putera- nya yang sedang marah hingga matanya merah, bibirnya gemetaran, sedang giginya meringis dan taringnya yang ber­ bisa tampak menakutkan. Sabda sang bagawan, ’’Anakku Sukasarana, duduklah. Jangan anda melampiaskan ke­marahan akan menghancurkan pertapaan.”

’’Duduk, duduk? Apa perlunya duduk, kalau ayah tak mau mengatakan ke mana kakang Sumantri pergi. Katakanlah sekarang atau pertapaan Ardisekar akan ku- hancurlumatkan,” jawab Sukasarana.

Dengan lemah lembut sang bagawan memberi kete­rangan. ’’Sebenarnya. .. kakangmu Sumantri pergi ke negeri Maespati, anakku. Ia berpesan jangan sampai anda mengerti hal itu, sebab ia akan berusaha mengabdi kepada Prabu Aijunawijaya. Sebelum ia diterima sebagai abdi ke- rajaan, ia tak ingin diganggu oleh siapa pun.”

Mendengar keterangan ayahandanya itu, Bambang Sukasarana meninggalkan pertapaan tanpa pamit. Ia terbang ke angkasa di atas hutan belukar menuju negeri Maespati. Dari angkasa ia melihat-lihat ke bawah, sebentar turun, se­bentar naik, mengamat-amati gerak-gerik di dalam hutan untuk mencari-cari kakandanya yang beijalan darat melin­tasi hutan itu.

Tak lama kemudian ia dapat menemukan kakandanya dan segera ia turun dari angkasa dan bertengger di atas pohon gurda yang besar. Dari sana ia memanggil-manggil kakandanya, ’’Kakang Sumantri, kakang Sumantri. Ke manakah kakanda akan pergi?”

Mendengar suara yang memanggil-manggil namanya, Bambang Sumantri terkejut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri hingga akhirnya melihat adiknya, Bambang Sukasarana bertengger di atas pohon gurda.

’’Sukasarana, bagaimanakah anda sampai di sini dan dapat pula menemukan aku?” kata Sumantri.

”Aku dapat terbang. Daya ciumku amat tajam. Itulah sebabnya aku dapat menemukan kakang. Kakang mau ke Maespati? Mau mengabdi Prabu Arjunawijaya? Aku ikut, kang. Aku ikut.” Sukasarana mendesak akan ikut Bambang Sumantri, tetapi kakandanya berkeberatan dan berkata, ’’Jangan, Sukasarana, janganlah anda ikut.”

’’Apakah sebabnya aku tak boleh ikut? Ingatlah, kang. Kakang Sumantri badannya lemah. Serba halus. Bagaimana­kah kalau menghadapi bahaya?” tanya adiknya.

”Aku mampu mengatasi segala bahaya. Aku mem­punyai aji jaya kawijayan. Aku memiliki kesaktian. Aku mempunyai senjata Cakra yang dapat kuandalkan,” jawab Sumantri tegas.

Sukasarana tertawa terkekeh-kekeh. ’’Kakang, semua­nya itu tidak berarti bilamana bahaya yang mengancam lebih besar, lebih sakti dan lebih ampuh, tetapi kalau aku ikut aku akan melindungi kakang terhadap segala bahaya. Biarpun terhadap dewa aku tak takut.”

”Aku cukup dapat menolong diriku sendiri dari segala marabahaya,” jawab Sumantri, ’’jangan, janganlah adikku ikut sebelum aku diterima mengabdi Prabu Aijunawijaya.” ’’Tidak, kakang, aku mesti ikut!” jawab Sukasarana mendesak, bahkan terus mendesak. Lama-kelamaan Suman­tri hilang kesabarannya dan mengancam akan menikam adiknya dengan keris pusakanya. Sukasarana tidak mau mundur dari kehendaknya dan terus pula mengatakan, ”Aku ikut, aku ikut!”

Dalam puncak kemarahannya, Bambang Sumantri lalu benar-benar menikam Sukasarana, tetapi adiknya yang kebal dan sakti itu tidak mempan oleh kerisnya. Akhirnya untuk menghindari pertengkaran yang berlarut-larut, pergilah Sukasarana meninggalkan kakandanya. Ia terbang ke ang­kasa, tetapi kemudian berbalik kembali dan dengan diam- diam ia mengikuti kakandanya dari kejauhan.

 

Prabu Arjunawijaya di Maespati

Kerajaan Maespati yang juga disebut Mahispati mula- mula didirikan dan diperintah oleh Prabu Herriya, ketu­runan keempat dari Batara Surya. Ia mewariskan tahtanya kepada Prabu Kartawirya, ayah Aijunawijaya.

Waktu Aijunawijaya menginjak usia dewasa, ia diperin­tahkan kawin oleh ayahandanya, tetapi putera mahkota itu menolak. Oleh karenanya ia diusir oleh ayahandanya. Ke­mudian Aijunawijaya bertapa di guwa Ringinputih. Tempat itu lalu menjadi pusaka atau angker. Apapun yang terbang di atas guwa itu, tentu jatuh terkulai di tanah.

Waktu itu Prabu Dasamuka yang juga disebut Rawana, raja raksasa di Alengka yang amat angkaramurka meminang puteri Prabu Citrawirya, raja di negeri Tunjungpura yang bernama Dewi Citranglangeni. Sang puteri mau menerima lamaran Dasamuka asalkan Rawana dapat mempersembah­kan seribu kepala pendeta. Untuk memenuhi permintaan sang dewi, Dasamuka mengutus abdinya yang bernama Yaksamuka yang amat diandalkan karena kesaktiannya.

Segera Yaksamuka berangkat akan menjalankan perin­tah gustinya. Para pendeta yang mendengar maksud kejam itu meninggalkan pertapaannya sehingga banyak pertapaan menjadi kosong. Waktu Yaksamuka hendak memenggal kepala Bagawan Jumanten, ia mengalami perlawanan putera sang pendeta yang bernama Bambang Kartanadi. Ia sakti dan tangguh menghadapi Yaksamuka, Raksasa kejam itu menderita kekalahan. Ia terbang melarikan diri, tetapi terus dikejar oleh Bambang Kartanadi.

Terjadilah kejar-mengejar di angkasa, diseling dengan peperangan di antara mereka berdua dengan dahsyat. Pada waktu Yaksamuka terbang di atas guwa Ringinputih, maka jatuhlah ia terkulai di muka guwa itu. Peristiwa itu me­nyebabkan Aijunawijaya yang sedang bertapa terkejut dan menghampiri raksasa yang jatuh pingsan. Setelah Yaksa­muka sadar kembali, ia menyembah Aijunawijaya dan ber­kata ketakutan, ’’Ampun gusti, ampun segala kesalahan dan kelancangan hamba terbang di atas pertapaan paduka.”

Belum sempat Aijunawijaya menjawab, datanglah Bambang Kartanadi. Dengan penuh hormat dan sopan ia minta kepada Aijunawijaya agar Yaksamuka diserahkan kepadanya, tetapi sang tapa tidak mengabulkan permintaan­nya.

Bambang Kartanadi marah dan menyerang Aijunawi­jaya. Teijadi perang ramai, tetapi Kartanadi menderita ke- kakalahan. Baik Kartanadi maupun Yaksamuka tunduk dan mengabdi kepada sang tapa. Keduanya terpaksa hidup rukun, tetapi Bambang Kartanadi tetap menaruh dendam pada Yaksamuka.

Aijunawijaya mendengar cerita Yaksamuka tentang ke­cantikan Dewi Citranglangeni. Seketika timbullah keinginan­nya akan memperisteri Dewi Citranglangeni. Ia lalu pergi ke negeri Tunjungpura diiringi oleh Yaksamuka dan Bambang Kartanadi.

Sampai di negeri Tunjungpura timbullah kembali den­dam Bambang Kartanadi terhadap Yaksamuka. Ia tetap mengkhawatirkan kalau-kalau Yaksamuka tetap akan me­menggal kepala seribu orang pendeta seperti ditugaskan oleh Rawana kepadanya. Tanpa diketahui oleh Arjunawijaya sang Raksasa Yaksamuka disiksa oleh Bambang Kartanadi. Kupingnya dipotong lalu diperintahkan pulang ke negeri Alengka.

Dengan berlumuran darah Yaksamuka menghadap raja Rawana Dasamuka dan menceritakan apa yang teijadi pada dirinya. Dasamuka marah dan Yaksamuka dibunuhnya.

Lamaran Aijunawijaya diterima baik oleh Dewi Citra­nglangeni. Perkawinan mereka dirayakan di negeri Tunjung­pura dengan perayaan besar. Beberapa hari kemudian Ar­junawijaya memboyong Dewi Citranglangeni ke negeri Maespati. Segera ia diangkat menjadi raja Maespati meng­gantikan ayahnya. Ia berganti nama Prabu Aijunawijaya ber­gelar Aijunasastrabahu. Gelar terakhir ini disebabkan bila­ mana sang prabu marah dan bertiwikrama, maka seketika ia berganti ujud menjadi raksasa sebesar gunung, bertangan seribu (sastra = seribu; bahu = tangan) yang semuanya me­megang senjata beraneka warna. Bambang Kartanadi di­angkat menjadi patih Maespati.

 

 

 

Dewi Citrawati

Pada suatu ketika Prabu Aijunasastrabahu mendapat petunjuk dari dewa, ”Hai Aijunawijaya, ketahuilah, bahwa puteri Prabu Citragada di negeri Magada, seyogyanyalah ia menjadi permaisuri anda. Sudah banyak raja-raja yang me­lamar sang dewi, tetapi tak ada yang disetujuinya. Para raja itu sekarang beristirahat di luar ibukota Magada menan­tikan jawaban sang dewi yang tegas. Di antara para raja itu terdapat Prabu Darmawasesa dari negeri Widarba dengan membawa angkatan perangnya yang dapat diandalkan. Dengan demikian negeri Magada terancam hancur. Oleh karenanya, kerahkanlah balatentara anda untuk membantu Prabu Citragada yang terhimpit. Dengan demikian anda akan mempersunting Dewi Citrawati, penjelmaan Dewi Sri.”

Prabu Aijunawijaya segera merundingkan petunjuk dewa itu dengan patih dan para panglima perangnya. Mak­sudnya ia akan mengutus patih Kartanadi melamar Dewi Citrawati dengan tugas menggempur para raja yang meng­hendaki sang dewi, terutama sekali Prabu Darmawasesa dari negeri Widarba dengan angkatan perangnya. Sedang sang prabu merundingkan maksudnya itu, datanglah menghadap Bambang Sumantri. Ia bersembah, ’’Gusti, hamba Prabu Aijunawijaya yang kami sembah dan junjung tinggi, hamba datang dari pertapaan Ardisekar, putera Bagawan Suwan- dagni. Nama hamba Bambang Sumantri, datang bersembah di hadapan sri paduka dengan permohonan akan mengabdi. Hamba bersedia menjalankan tugas apa pun dan betapa berat pun dengan segala kemampuan hamba.”

Jawab Prabu Arjunawijaya, ’’Bambang Sumantri, maksudmu mengabdi padaku akan kuterima, bilamana anda berhasil menyelesaikan tugas yang akan kuberikan pada­mu.”

”Hamba bersedia melaksanakan tugas yang akan sri paduka limpahkan kepada hamba. Hamba menantikan sabda prabu tentang tugas itu,” kata Sumantri dengan tegas.

’’Anda kutugaskan melamar Dewi Citrawati, puteri Prabu Citragada di negeri Magada. Sudah banyak raja yang melamarnya dan tidak urung para raja akan merebut sang dewi dengan peperangan. Tugas anda ialah membantu pe­rang ke negeri Magada. Kalau itu berhasil, lamaranmu nis­caya akan diterima. Dan anda kuterima mengabdi di Maes- pati,” sabda sang prabu menjelaskan.

Bambang Sumantri bersembah, ’’Hamba sanggup me­laksanakan tugas sekalipun belum ketentuan hasilnya. Na­mun hamba bersedia mati untuk mengemban tugas sri paduka.”

’’Sumantri,” sabda sang Prabu, ’’Anda tidak aku suruh mati, tetapi aku perintahkan melaksanakan tugas dengan berhasil. Berangkatlah, kuiringi puji doa. Kuperintahkan patih Kartanadi dan balatentara Maespati menyertai anda di dalam tugas berat itu.”

Bambang Sumantri menyembah sang prabu, lalu be­rangkat. Keberangkatannya diiringi oleh balatentara Maes­pati dengan para panglimanya yang dapat diandalkan di bawah pimpinan patih Kartanadi.

Sumantri diterima oleh Prabu Citragada, raja Magada. Kemudian diberitahukan kepada Dewi Citrawati, bahwa Prabu Arjunawijaya melamar dirinya. Jawab sang dewi, ’’Hamba bersedia menjadi permaisuri Prabu Arjunawijaya dengan permohonan agar dipenuhi dua syarat, yakni : 1. Menyirnakan Prabu Darmawasesa, raja Widarba yang akan menghancurkan negeri Magada; dan 2. Memenuhi keinginan­ku bermadu puteri domas, yakni puteri sebanyak delapan ratus orang.”

Bambang Sumantri menyadari, bahwa persyaratan yang diajukan oleh Dewi Citrawati itu harus dilaksanakan dengan mempertaruhkan jiwanya. Prabu Darmawasesa raja Widarba yang harus dimusnahkannya terkenal kebal dan sakti. Persyaratan kedua, ia harus menyediakan puteri domas, delapan ratus orang puteri, sebagai madu Dewi Citra­wati. Ini berarti ia harus menundukkan semua raja-raja yang kini mengepung negeri Magada. Dengan demikian ia dapat mengumpulkan puteri-puteri dari berbagai negeri hingga mencapai delapan ratus orang.

Bambang Sumantri menyanggupi permintaan Dewi Citrawati dan segera ia keluar ke medan perang.. Semua raja-raja dapat ditaklukkan. Akhirnya tinggal Prabu Darma- wasesa raja Widarba yang memang paling sakti di antara se­jumlah raja-raja yang menginginkan Dewi Citrawati. Para panglimanya pun ahli perang yang tangguh.

Dengan tak ragu-ragu Sumantri menghadapi Prabu Dar- mawasesa. Setelah balatentara Widarba dapat dikalahkan oleh tentara Maespati, maka terjadilah perang tanding antara Bambang Sumantri dan Prabu Darmawasesa. Perang teijadi dengan seru dan seram. Keduanya menumpahkan segala ke­saktian dan menggunakan senjata pusaka masing-masing yang ampuh. Kalah memang silih berganti. Debu berham­buran bagaikan kabut tebal menjulang langit.

Suatu ketika Prabu Darmawasesa terdesak dan mundur untuk mengatur siasat. Pada saat itu mendadak Bambang Sumantri diserang oleh seorang raja yang ternyata memban­tu Prabu Darmawasesa. Raja itu bernama Prabu Jonggiru- paksa dari negeri Jonggarba. Ia tunggal guru dengan Prabu Darmawasesa. Keduanya murid Resi Ramabargawa.

Bambang Sumantri tidak gentar menghadapi dua orang lawan yang sakti dan tangguh. Setelah perang ramai akhir­nya kedua orang raja itu dapat dihancurkan oleh Bambang Sumantri. Raja lain-lainnya dengan balatentaranya takluk Persyaratan Dewi Citrawati yang pertama, yakni sirna­nya Prabu Darmawasesa telah terpenuhi. Sekaligus dengan itu dapat dilaksanakan pula persyaratan yang kedua, yakni terkumpul puteri domas, delapan ratus orang puteri untuk menjadi madu Dewi Citrawati. Puteri domas itu terdiri dari puteri-puteri berbagai kerajaan yang telah ditundukkan oleh Bambang Sumantri dalam perang menyelamatkan negeri Magada.

Dewi Citrawati dengan puteri domas diboyong oleh Bambang Sumantri ke negeri Maespati. Peijalanan pulang menang perang Bambang Sumantri ramai sekali. Berbagai kendaraan digunakan, tandu keemasan, kereta kencana, kuda, gajah dan prajurit yang berpakaian warna warni men­jadi tontonan yang indah. Sepanjang jalan mendapat peng­hormatan yang besar.

Sumantri menantang Arjunawijaya

Sampai di perbatasan negeri Maespati, Bambang Su­mantri memerintahkan perjalanan berhenti untuk beristi­rahat. Ia minta patih Kartanadi menyampaikan sepucuk suratnya kepada Prabu Aijunasastrabahu. Inti surat itu ber­bunyi : ’’Hamba telah berhasil memboyong Dewi Citrawati diiringi oleh delapanratus orang puteri sebagai madunya. Itulah hasil hamba dalam peperangan bertaruh nyawa me­ngalahkan raja-raja yang menghendaki Dewi Citrawati, ter­utama Prabu Darmawasesa raja Widarba yang sakti dan tang­guh. Mengingat bahwa Dewi Citrawati seorang puteri yang telah diperebutkan banyak orang raja, hamba mohon per­kenan sang prabu menjemput mempelai puteri di pintu gerbang kerajaan. Dan agar bertambah masyhur nama sri paduka, maka amatlah elok bilamana calon permaisuri itu direbut dengan perang tanding. Dengan perkenan sri paduka hamba akan melayani sang prabu dalam perang tanding.”

Menerima surat Bambang Sumantri Prabu Arjunasastra- bahu berkata dalam hatinya, ”Ya, ya … . Sumantri hendak mencoba kesaktianku. Baiklah akan kupenuhi permohonan­nya.”

Sang prabu lalu utusan memberikan hadiah kepada Bambang Sumantri seperangkat busana perang serta mah­kota kerajaan agar dipakai dalam perang tanding yang di­kehendakinya.

Prabu Arjunawijaya menyongsong iring-iringan Dewi Citrawati dan putri domas di pintu gerbang kerajaan Maes- pati. Melihat gustinya berdiri gagah dengan busana perang, Bambang Sumantri turun dari kereta untuk menghadapi sang prabu dalam perang tanding.

Keduanya berpakaian yang sama, serba gemerlapan dan bermahkotakan kerajaan. Keduanya sungguh cantik dan anggun sehingga yang berperang tanding itu bagaikan raja kembar.

Perang tanding terjadi dengan ramai sekali, masing- masing menumpahkan kesaktian dan aji jaya kawijayaannya serta senjata pusakanya. Ternyata Bambang Sumantri amat kuat dan sulit bagi sang prabu akan mengalahkannya.

Pada suatu saat Prabu Arjunawijaya terhimpit dan ter­pegang oleh Bambang Sumantri. Waktu hendak dibanting, seketika sang prabu lepas dari tangan Sumantri dan hilang dari pandangan. Pada saat itu pula tampak di muka Suman­tri raksasa gandarwa sebesar gunung. Matanya bagaikan surya kembar, tangannya seribu, semuanya memegang ber­aneka macam senjata. Kemudian terdengarlah suaranya bagaikan guntur, ”Hai Sumantri, jangan mengira kau me­nang perang tanding. Janganlah lari kau Sumantri, akan ku- hancurlumatkan tubuhmu.”

Gandarwa sebesar gunung itu adalah Prabu Aijuna- sastrabahu dalam triwikramanya. Sumantri tidak ragu-ragu, bahwa yang dihadapi adalah penjelmaan Batara Wisnu, maka ia segera duduk maraih dan menyembah kaki sang Triwi krama. Ia bersembah, ’’Gusti hamba, Batara Wisnu yang menjelma di bumi, bilamana gusti menghendaki, niscaya hamba hancurlumat, bahkan dunia seisinya dapat hancur binasa dalam sekejap mata. Siapakah yang kuat menandingi triwikrama gustiku. Biar dewa-dewa di kahyangan niscaya tak mampu melawan gusti. Oleh karena itu hendaklah gusti mengakhiri triwikrama agar terpelihara keselamatan dunia. Ayu, ayu, ayu           ”

Puji sanjung Bambang Sumantri meluluhkan kema­rahan Prabu Aijunasastrabahu hingga akhirnya hilang lenyap sang Triwikrama. Yang tampak tinggal Prabu Aijunasasra- bahu dihadap oleh Bambang Sumantri yang duduk menyem­bah kaki sang prabu seakan-akan mukanya melekat di tanah.

’’Adinda Bambang Sumantri,” sabda sang prabu, ’’Anda telah mencoba kesaktianku. Aku hanya dapat me­nerima pengabdianmu, bila anda dapat memutar memindah­kan Taman Sriwedari dari gunung Untara ke Istana Maes- pati. Anda tak kuperkenankan menginjak bumi Maespati se­belum berhasil memutar Taman Sriwedari.”

 

Bantuan Sukasarana

Prabu Arjunasasrabahu kembali ke istana Mespati memboyong Dewi Citrawati yang diiringi oleh puteri domas dan balatentara Maespati dan Magada.

Bambang Sumantri bermenung sedih di muka pintu gerbang kerajaan. Ia merasa tidak mampu memutar gunung Untara ke Maespati. Letak gunung Untara itu pun ia tak mengetahui. Dan ia pasti tidak memiliki kesaktian untuk memutar memindahkan Taman Sriwedari.

Dengan kesedihan dan kebingungan Bambang Sumantri berjalan tanpa tujuan meninggalkan gerbang kerajaan Maes­pati. Sepanjang jalan ia dirundung kesedihan karena meng­hadapi persyaratan prabu Maespati yang tak mungkin ia penuhi. Dengan tak dirasanya keluarlah airmatanya meleleh di atas pipinya yang kuning dan halus. Ia menangis karena cita-citanya mengabdi Prabu Aijunawijaya penjelmaan Ba­tara Wisnu tidak akan tercapai.

Setelah ia berjalan masuk hutan belukar, tiba-tiba ia mendengar suara Bambang Sukasarana memanggil-manggil. ’’Kakang, kakang Sumantri, rupanya kakang bersedih hati. Kakang menghadapi kesulitan? Apakah kesulitan itu, kakang? Jangan kakang menangis, tidak elok seorang satria menangis. Katakanlah kesulitan itu pada adikmu ini. Aku akan membantu kakang           ”

Setelah melihat ke atas dan mengetahui Bambang jukasarana bertengger di pohon. Sumantri berkata, ’’Adik­ku, ya adikku, turunlah, akan kuberi tahu kesulitanku.”

Sukasarana turun dan Sumantri segera mengatakan ten­tang perintah Prabu Aijunasasrabahu, kemudian ia berkata, ”Ya adikku Sukasarana, pastilah tidak diterima aku meng­abdi di Maespati, karena aku tidak dapat memindahkan Taman Sriwedari. Aku tidak tahu di mana letak Taman Sri- wedari dan aku tidak memiliki kepandaian ataupun kesakti­an memindahkan sesuatu bangunan. Y a adikku, karena aku tidak dapat mengabdi Prabu Arjunasasrabahu, maka lebih baik aku mati. Relakanlah aku menghabisi jiwaku. Pulanglah adikku, sampaikanlah sembahku kepada ayahanda di per­tapaan.”

’’Jangan kakang, janganlah kakang berputus asa,” Ja­wab Sukasarana, ”aku akan membantu kakang. Aku mampu memutar memindahkan Taman Sriwedari dari gunung Untara ke negeri Maespati.”

’’Jangan engkau berolok-olok, adikku. Benarkah anda dapat memindahkan Taman Sriwedari?” tanya Sumantri tidak percaya.

’’Adikmu menjamin, pasti dapat, tetapi…. kakang mesti berjanji akan selalu membawa aku ke mana saja kakang pergi. Aku tidak sanggup berpisah dari kakang. Aku sangat cinta padamu, kakang Sumantri,” kata Sukasarana menegaskan.

Bambang Sumantri beijanji akan selalu membawa adik­nya ke mana ia pergi. Mendengar janji itu, Bambang Suka­sarana berkata, ’’Kakang, Taman Sriwedari terletak di gu­nung Untara di kahyangan Batara Wisnu. Baiklah kita pergi ke sana. Kakang, persilakan naik di punggungku dan pejam­kan mata, sebentar aku bawa kakang ke Taman Sriwedari.”

Dengan menggendong kakandanya Sukasarana terbang menuju ke Taman Sriwedari. Tak lama kemudian setelah sampai di Taman Sriwedari ia mempersilakan kakandanya membuka matanya dan turun dari punggungnya.

’’Inilah Taman Sriwedari. Taman ini teljadi karena cipta Batara Wisnu. Oleh karenanya bukan aneh, kalau Prabu Aijunasasrabahu menginginkan taman ini dipindah­kan ke Maespati, sebab sang prabu adalah penjelmaan Batara Wisnu,” kata Sukasarana menjelaskan.

Bambang Sumantri melihat-lihat Taman Sriwedari de­ngan terheran-heran karena indahnya. Kemudian berkatalah Sukasarana, ’’Kakang, masuklah kakang ke dalam wisma indah tempat peristirahatan ini. Aku akan pindahkan taman ini ke Maespati dengan cipta, sebab Batara Wisnu telah men­jadikan taman ini dengan ciptanya pula.”

Bambang Sumantri masuk ke dalam wisma peristi­rahatan di Taman Sriwedari dan pintunya ditutup oleh adik­nya dari luar. Bambang Sukasarana segera mengheningkan cipta, bersemadi, menutup segala nafsunya. Ada suara tak didengarnya, segala macam ujud tak dilihatnya. Ia memper­satukan kehendaknya, membulatkan permohonannya ke­pada dewa untuk memindahkan Taman Sriwedari ke negeri Maespati. Maka permohonan. Sukasarana dengan semadinya telah mendatangkan ’gara-gara’, yakni perobahan alam yang mendadak dan mengejutkan. Bumi guncang karena gempa, alam bergetar karena angin besar menghembus, hujan turun dengan lebatnya, petir bersambar-sambaran dan langit ge­merlapan. Di kahyangan para dewa dan bidadari kebingung­an, lari puntang-panting mengungsi berlindung bernaung ke­pada Batara Rudra. Akhirnya dewa mengakhiri dan mereda­kan gejala alam dengan mengabulkan permohonan sang Sukasarana.

Turunlah hujan rintik-rintik disertai semerbak bau ha­rum mewangi yang diturunkan oleh dewa-dewa ke bumi. Itulah pertanda permohonan Sukasarana dikabulkan dewa.

Sukasarana mengakhiri semadinya. Ketika itu Taman Sriwedari dengan kekuasaan dewa telah ada di negeri Maespati. Sukasarana membuka pintu wisma peristirahatan dan mempersilakan kakandanya menyaksikan Taman Sriwe­dari telah ada di Maespati. Tiada selembar daun dan setang­kai bunga yang berubah atau tertinggal. Semuanya, Taman Sriwedari seutuhnya telah pindah ke negeri Maespati.

Dalam hati Sumantri amat memuji kesaktian Suka­sarana, tetapi ia tetap berpikir akan sulit baginya bilamana adiknya terus mengikutinya di negeri Maespati. Oleh ka­renanya ia membujuk Sukasarana dengan berkata, ’’Adikku, sungguh luar biasa kesaktian mu. Aku amat berterima kasih kepadamu, karena dengan berhasilnya Taman Sriwedari di- putarpindahkan ke Maespati, niscaya aku akan diterima mengabdi Prabu Aijunawijaya. Akan menghadap sang Prabu, mempersembahkan Taman Sriwedari ini kepadanya. Sebaliknya adikku Sukasarana, anda pulanglah ke pertapaan memberitahukan kepada ayahanda, bahwa aku diterima mengabdi di Maespati.”

Dengan cepat Sukasarana memotong, ’’Tidak, kakang. Aku tidak mau pulang. Aku ikut kakang. Katanya, kakang akan selalu membawa aku, asal aku dapat memutar pindah­kan Taman Sriwedari. Sekarang Taman Sriwedari sudah ada di Maespati, kakang suruh aku pulang. Kakang bohong, mau ingkar. Janganlah kakang bohong dan ingkar. Perbuatan demikian memudarkan sifat kesatriaanmu.”

Sumantri menjadi gugup, karena adiknya tak mau di­suruhnya pulang, bahkan terus-menerus mendesak, ”Aku ikut kakang. Kakang jangan ingkar, itu bukan sifat satria. Aku ikut, ya kakang.”

’’Pulanglah dahulu adikku. Kalau anda tidak mau pu­lang, apakah aku terpaksa memaksa anda,” berkata demiki­an Sumantri sambil memegang panahnya senjata Cakra un­tuk menakut-nakuti adiknya, tetapi sang adik sama sekali tidak takut. Ia tetap menuntut agar ia diperbolehkan ikut kakandanya ke mana ia pergi. Ia tidak sanggup berpisah dari kakandanya.

Bambang Sumantri makin terpojok dan terus mena- kuti-nakuti adiknya dengan senjata Cakra. Dalam keadaan yang gugup dan makin terpojok, Bambang Sumantri le­ngah dalam memegang panahnya. Maka dengan tak di­sengaja terlepaslah senjata Cakra yang ampuh, tepat me­ngenai Bambang Sukasarana dan matilah ia seketika. Tubuh­nya jatuh di hadapan kakanda yang amat dicintainya.

Bambang Sumantri terkejut dan segera ia hendak me­meluk tubuh adiknya yang sudah tak bernyawa, tetapi tu­buh Sukasarana lenyap. Bersama dengan itu terdengar suara di angkasa, ’’Kakang Sumantri, keterlaluan kakang tak tahu budi. Aku sudah membantumu, tetapi kau ingkar janji, tak menyukai aku ikut padamu. Engkau telah membunuh aku yang tanpa dosa. Ingatlah akan datangnya pembalasan­ku. Ingat-ingat dan hati-hatilah! Kelak, di dalam peperang­anmu melawan raja raksasa, di saat itulah datang pembalas­anku.”

Bambang Sumantri tertegun dan amat menyesal dalam hatinya hingga keluar airmatanya. Tangis seribu tangis su­dah tak berguna, kecuali merupakan penyesalan yang tak berarti.

Bambang Sumantri mempersembahkan Taman Sriwe- dari kepada Prabu Arjunawijaya. Dengan itu diterimalah ia mengabdi pada raja Maespati dan diangkat sebagai patih dengan diberi nama Patih Suwanda.

Kehadirannya di negeri Maespati menambah kemashur- an negeri itu dengan raja dan patih yang sakti. Banyak ne­geri takluk di Maespati tanpa diperangi, kecuali karena ke­saktian, kemashuran dan kebijaksanaan sang raja dan patih­nya.

 

Patih Suwanda Gugur

Pada suatu hari Prabu Arjunasasrabahu bercengke­rama di muara Bengawan Gangga yang juga disebut Silu- gangga. Ia menghendaki mandi dengan bebas bersama para isterinya. Maka diperintahkanlah kepada Patih Suwanda un­tuk melakukan pengawasan dan penjagaan di sekitar muara bengawan, jangan sampai terjadi suatu gangguan apa pun selama sang prabu bercengkerama.

Sementara itu Prabu Dasamuka yang juga terkenal de­ngan nama Rawana, raja Alengka atau Ngalengka mende­ngar, bahwa raja Maespati sedang bercengkerama di muara Bengawan Gangga. Dengan sengaja ia datang membawa para prajuritnya untuk mengganggu Prabu Arjunasasrabahu yang sedang bersenang-senang. Ia bertindak demikian untuk me­mancing peperangan dengan sang prabu Maespati. Dasa­muka dendam karena Dewi Citranglangeni puteri raja Tunjungpura yang pernah diinginkannya telah diperiteri Arjunawijaya.

Agak jauh di atas muara Bengawan Gangga Dasamuka yang besar dan tinggi tubuhnya bertiduran melintang be­ngawan. Oleh karena itu air bengawan terbendung hingga yang mengalir ke muara menjadi kecil. Dengan air yang se­dikit tentulah teiganggu kesenangan Prabu Arjunasasrabahu dalam cengkeramanya.

Melihat peristiwa itu Patih Suwanda segera mengada­kan pemeriksaan di sekitar muara bengawan. Akhirnya ia mengetahui sebab musabab air bengawan terbendung. Tidak lain karena seorang raksasa besar tinggi tidur melintang be­ngawan. Patih Suwanda segera bertindak. Dasamuka yang sedang enak-enak bertiduran di atas air bengawan yang se­juk ditendang sekeras-kerasnya.

Dasamuka marah sekali dan terjadilah perang. Kedua­nya amat kuat, sakti dan kebal. Maka perang tanding Su­wanda melawan Dasamuka amatlah ramainya. Lama sekali, kalah menang silih berganti. Rawana terdesak oleh Patih Su­wanda, tetapi pantang mundur. Berkali-kali Dasamuka ber­hasil dibunuh oleh Suwanda, tetapi berkat khasiat aji ’Pan- casona’-nya ia selalu hidup kembali, bahkan nekat dan mata gelap. Dengan menumpahkan segala kekuatannya, akhirnya Dasamuka berhasil mendekap tubuh Suwanda.

Patih Suwanda sulit sekali melepaskan diri dari dekap­an Dasamuka yang amat kuat dan nekat. Dalam usahanya melepaskan diri, Patih Suwanda agak lengah. Kesempatan yang sedikit itu olehDasamuka dimanfaatkan dengansebaik- bainya. Ia menggigit leher Patih Suwanda. Pada saat itu pula Sukma Bambang Sukasarana merasuk masuk ke dalam ta­ring Dasamuka. Seketika itu pulalah Patih Suwanda mati ka­rena gigitan taring Dasamuka. Tubuhnya jatuh terkulai di tanah.

Di angkasa tampak cahaya dua sukma terbang ber­dampingan. Sukma Bambang Sukasarana dan Sukma Patih Suwanda atau Bambang Sumantri terbang menghilang di belakang mega-mega.

Prabu Arjunasasrabahu mendengar kematian patih yang amat disayangi dan diandalkannya. Seketika ia me­ninggalkan percengkeramaan untuk menuntut balas. Pe­perangan Arjunasasrabahu bertanding Dasamuka amat ra­mai sekali. Dasamuka menderita kekalahan dan berhasil di­cincang, kemudian dirantai erat-erat oleh Prabu Arjuna- wijaya dan dibawanya pulang ke Maespati, lalu dimasukkan kurungan besi.

Meskipun demikian belumlah berakhir hidup Rawana Dasamuka si angkaramurka. Resi Pulastya, kakek moyang Dasamuka, menghadap Prabu Arjunawijaya memohonkan maaf cicitnya, agar ia dilepaskan dari kurungan besi.

Prabu Arjunasasrabahu penjelmaan Batara Wisnu tidak dapat menolak permohonan orang suci. Maka dilepaskanlah Rawana Dasamuka dari kurungan besi, lalu pulang ke negeri Alengka. Bersamaan dengan itu dewa meramalkan, bahwa Dasamuka kelak akan mati terbunuh dalam perang mela­wan Prabu Ramawijaya yang juga penjelmaan Wisnu.

Pujian Pujangga

Watak dan tekad Patih Suwanda dipuji oleh pujangga besar Sri Mangkunagara IV (1809 — 1881 M.) di dalam bu­kunya bahasa Jawa berbentuk tembang yang berjudul ”Tri- pama” (Tiga Tamsil), yakni di dalam bait ke-1 dan ke-2 yang terjemahannya sebagai berikut :

Seyogyalah para prajurit, bila dapat semuanya me­niru, cerita masa dahulu, (tentang) andalan sang prabu, Sasrabahu di Maespati, bernama Patih Suwan­da, jasa-jasa baktinya, yang terpadu dalam tiga hal, yakni pandai mampu (dan) berani (itulah) yang di­tekuninya, menetapi sifat keturunan (orang) utama.

Arti jasa bakti yang tiga macam itu, pandai mampu di dalam segala pekerjaan, diusahakannya hingga menghasilkan kemenangan, seperti kenyataannya, waktu membantu perang ke negeri Magada, mem­boyong delapan ratus orang puteri, dipersembahkan kepada gustinya, (tentang) keberaniannya sudahlah jelas, perang tanding melawan raja raksasa Alengka, (Patih) Suwanda gugur dalam perangnya.

Watak dan tekad yang dipuji oleh sang pujangga itu di­lukiskan dengan ringkas sekali. Oleh karenanya di muka te­ lah disajikan cerita lengkapnya agar para pembaca dapat me­nyelami dan memahaminya dengan saksama.

Sifat dan tabiat Bambang Sumantri atau Patih Suwan- da yang terpadu dalam tiga watak yakni pandai, mampu dan berani pada hakekatnya mengandung unsur tanggung- jawab di dalam arti kata yang luas.

Watak dan tekad demikian patut benar menjadi bekal mengabdi kepada negara dan bangsa yang merdeka dan ber­daulat.

***