Suluk

Suluk dalam Wayang
Suluk biasanya diucapkan para dalang dalam bentuk “Lagon”, baik wayang kulit atau wayang orang dan juga digunakan di wayang golek dan beberapa jenis wayang lainnya .. ucapannya seperti mantera.Umumnya dibawakan awal atau sisipan suatu adegan, alunan nada suluk termasuk susah dipelajari karena nadanya kadang rendah sekali kadang meninggi dengan cepat, Suluk bisa juga disebut “nyanyian pembawa suasana”, “mood song”.Dalam pedalangan Surakarta ada 40 suluk dan dibagi 3 golongan besar yaitu Pathetan, Sendhon dan Ada-ada.
Pathetan digunakan untuk membangun suasana tenang, agung dan sahdu biasanya diiringi rebab, gender, gambang dan suling.
Sendhon dibawakan untuk menggambarkan suasana sedih atau romantis
Ada-ada biasanya untuk suasana yang menyentak diiringi dodogan dan keprak.
Semua jenis suluk ada yang dilagukan sampai tuntas tapi ada yang hanya sebagian, tergantung suasana yang dimainkan dalang, kalau sampai tuntas disebut Suluk wantah sedangkan kalau sebagian disebut Suluk Jugag dan kalau amat singkat disebut Suluk Cekak.
Selain hal diatas, perbedaan awal suluk pada wayang kulit tergantung dari gagrak daerahnya, untuk Surakarta biasanya diawali oleh “Swuh srep data pitana ..” untuk gagrak Yogya biasanya diawali “Hong wilaheng awigenama …”, gagrak Banyumasan hampir sama dengan Yogyakarta walau pengaruh Surakarta kuat di Banyumas.

Untuk gagrak Yogyakarta biasanya kalimat Suluk disesuaikan dengan wayang yang sedang “dikelirkan”, sehingga ada suluk khusus Kresna, Bima, Arjuna dan sebagainya … sebagai contoh Suluk Kawi untuk tokoh Karna :

Karna karnalenira mawingis wingis
Mingisaken Kala Dete
Sedeng Karna mateni Karpa
Srikandi mandeg suryaning driya
Linepasan sanjata

Dst ……..

Untuk wayang gagrak Yogyakarta maka suluk dibagi atas Suluk Lagon, Suluk Kawin, Sendon dan Suluk Ada-ada …. setiap jenisnya juga dibagi atas bentuk wetah, jugag dan cekak …