Langkah-langkah Natah Wayang Kulit – Ambedhah

Ambedhah adalah kegiatan menatah pada bagian muka tokoh wayang, dan kegiatan ini merupakan yang paling sukar dalan natah wayang kulit. Oleh karena itu dalam belajar menatah materi yang berkaitan dengan langkah ambedhah ini menjadi materi terakhir setelah yang lain terkuasai. Ambedhah dapat menentukan berhasil tidaknya pembuatan wayang kulit itu, karena   muka wayang merupakan bagian yang terpenting dalam penentuan karakter tokoh, bahkan dapat dikatakan bahwa jiwa wayang itu terletak pada bagian ini. Pada umumnya kegiatan ambedhah dilakukan pada tahap terakhir.   Tujuannya  adalah jika  kurang  berhasil  atau  sedikit  kekurangan  dalam melakukan kegiatan ambedhah wayang kulit itu telah selesai, sehingga masih dapat dimanfaatkan. Ada pendapat lain mengenai hal ambedhah ini, yaitu kegiatan ambedhah sebaiknya dilaksanakan bersamaan  dengan proses anggebing,  sehingga pada saat memperoleh galra wayang, mukanya sudah selesai di bedhah (ditatah). Kegiatan ambedhah   dilakukan pada awal kegiatan natah wayang bertujuan untuk memperoleh bentuk wanda yang baik sesuai dengan yang diinginkan, jika dalam kegiatan ini tidak berhasil maka kegiatan membuat wayang itu di berhentikan. Oleh karena itu kadang seseorang dalam membuat tokoh menghabiskan beberapa lembar kulit hanya untuk mendapatkan satu wanda wayang yang tepat, misalnya membuat Weikudara, untuk mendapatkan wanda yang pas belun tentu satu kali selesai, kadang lebih dari lima kali mencoba melakukan ambedhah baru berhasil. Dalam kegiatan ambedhah ini ada beberapa kententuan baku yang harus di ikuti, yaitu berkaitan dengan bagian muka wayang. Pada bagian mata gagahan (thelengan) batas lubang bagian atas harus segaris dengan hidung jika ditarik garis kebelakang, kemudian batas bagian bawah mata harus segaris dengan bagian tengah-tengah gigi depan. Panjang bahu bagian depan harus segaris dengan bagian athi-athi jika ditarik garis ke bawah. Untuk tokoh wayang yang bermata liyepan (gabahan), Kedelen dan Pethen, bagian tengah mata harus segaris dengan bagian tengah gigi depan jika ditarik garis kebawah, kemudian bahu depan seukuran dengan ujung athi-athi jika ditarik ke bawah ( Sunarto, 1997: 160-161).
Dalam kegiatan ambedhah dikenal beberapa istilah, seperti: upil-upilan adalah bagian yang menggambarkan lubang hidung, bentuknya seperti ikal. Salitan atau gethtetan, adalah bagian belakang mulut pada tokoh satria yang bentuknya seperti ikal. Unton-unton adalah gigi wayang yang berjumlah tiga buah untuk tokoh satria. Slilitan, semacam gigi kecil yang bentuknya runcing, terletak dibagian paling depan. Suluhan bagian akhir (belakang) dan mata thelengan dan liyepan. Rengu adalah bentuk penggambaran lipatan kulit dahi, yang letaknya di atas hidung tokoh gagah. Athi-athi atau cambang rambut yang tumbuh di depan telinga (Sagio dan Samsugi, 1991: 151).
Proses ambedhah dimulai dari bagian salitan, unthon-unthon, kemucljan menatah bagian hidung dan upil-upilan, bibir bawah dan dagu. Selanjutnya bagian mata pada wayang dibuat terakhir. Dalam ambedhah bagian mata dimulai dari menatah bagian biji mata, pengguntung biji mata, dan dilanjutkan pada bagian suluhan.
Dalam dunia perajin wayang kulit tidak sedikit seorang yang berkeinginan membuat wayang yang berkualitas tinggi, memesan wayang dengan mukanya belum ditatah. Muka wayang tersebut selanjutnya dimintakan tolong kepada seorang dalang terkenal, atau seorang empu terkenal untuk melakukan kegiatan ambedhah. Hal ini dilakukan dengan harapan wayang tersebut akan memiliki wanda yang baik, karena yang melakukan kegiatan ambedhah adalah seorang empu atau dalang yang telah mempunyai reputasi dalam hal kualitas wayang kulit.