Jenis-jenis Wayang

Selama berabad-abad, budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. Kebanyakan jenis-jenis wayang itu tetap menggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam, antara lain yang terbuat dari kertas, kain, kulit, kayu, dan juga Wayang Orang.
Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat. Misalnya Wayang Kulit Purwa, yang berkembang pula pada ragam kedaerahan menjadi Wayang Kulit Purwa khas daerah, seperti Wayang Cirebon, Wayang Bali, Wayang Betawi, Wayang Banjar, dll.

Jenis-jenis wayang yang ada di Indonesia ada puluhan jumlahnya. Namun, yang terpenting di antaranya adalah:

a. Wayang Beber berupa selembar kertas atau kain yang berukuran sekitar 80 cm X 12 meter, yang digambari dengan beberapa adegan lakon wayang tertentu.

Satu gulung wayang beber biasanya terdiri atas 16 adegan. Pada saat pergelaran bagian gambar yang menampilkan adegan lakon itu dibuka dari gulungannya, dan sang Dalang menceritakan kisah yang terlukis dalam setiap adegan itu. Wayang Beber pada umumnya menceritakan kisah Panji.

Jenis wayang ini oleh sebagian orang dianggap yang paling tua, tetapi sebagian lainnya mengatakan Wayang kulitlah yang paling mula diciptakan orang di Pulau Jawa.

Sampai tahun 1986, masih ada dua orang juru sungging (pelukis) Wayang beber. Yang satu tinggal di Surakarta, di kampung Kadipiro, namanya Hadisuwamo. Sedangkan yang seorang lagi bernama Musyafiq, tinggal di Surabaya.

 

b. Wayang Kulit Purwa merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini. Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang Tokoh.

Agar lembaran wayang itu tidak lemas, digunakan “kerangka penguat” yang membuatnya kaku. Kerangka itu disebut cempurit, terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu.

Jenis wayang ini tersebar hampir di seluruh Jawa dan daerah transmigrasi, bahkan juga di Suriname—di benua Amerika bagian selatan.

Pergelaran Wayang Kulit Purwa diiringi dengan seperangkat gamelan sedangkan penyanyi wanita yang menyanyikan gending-gending tertentu, disebut pesinden atau waranggana.

Antara dalang, pesinden, gamelan di satu sisi dan penonton di sisi lain dibatasi oleh sebuah layar kain berukuran sekitar 125 cm X 600 cm, yang disebut kelir. Di atas dalang dipasang lampu yang disebut blencong. Dengan memainkan wayang di sinar blencong, penonton di balik kelir dapat menyaksikan gerak bayangan wayang itu. Dalam bahasa Jawa, wayang atau wewayangan memang berarti bayangan.

Semula pergelaran Wayang Kulit selalu dilakukan pada malam hari, semalam suntuk. Karena itulah diperlukan alat penerangan, semacam lampu minyak yang disebut blencong. Baru mulai tahun 1930-an beberapa dalang mulai mempergelarkan Wayang Kulit Purwa pada siang hari. Kemudian, sejak tahun 1955-an beberapa orang dalang muda memprakarsai pemampatan waktu pergelaran menjadi hanya sekitar empat jam.Upaya memampatkan pergelaran wayang menjadi empat jam atau kurang ini, terutama hanya untuk melayani para wisatawan manca negara yang umumnya tidak betah menonton pertunjukan seni yang berlama-lama.

Usaha beberapa orang dalang untuk memasyarakatkan Wayang Kulit Purwa dengan mengindonesiakan bahasa pengantarnya pernah dicoba, tetapi gagal.

c. Wayang Golek Sunda menggunakan peraga wayang berbentuk boneka-boneka kecil, dengan semacam cempurit untuk pegangan tangan Ki Dalang. Sama dengan Wayang Kulit Purwa, Wayang Golek Sunda pun menggunakan induk cerita dari serial Ramayana dan Mahabarata. Pergelaran Wayang Golek Sunda juga diiringi oleh seperangkat gamelan, lengkap dengan pesindennya. Bedanya, Wayang Golek Sunda tidak menggunakan kelir sehingga penonton dapat langsung melihat para tokoh wayang yang diperagakan ki dalang, bukan hanya bayangannya. Jenis wayang ini tersebar hampir di seluruh Jawa Barat.

Selain Wayang Golek Purwa Sunda, masyarakat Jawa Barat juga mengenal Wayang Golek Pakuan yang menceritakan berbagai legenda dan sejarah Tanah Pasundan.

d. Wayang Golek Menak, yang juga disebut Wayang Tengul, juga menggunakan peraga wayang berbentuk boneka kecil. Selain berupa golek, Wayang Menak juga ada yang dirupakan dalam bentuk kulit. Wayang ini diciptakan oleh Ki Trunadipa, seorang dalang dari Baturetno, Surakarta, pada zaman pemerintahan Mangkunegoro VII. Induk ceritanya bukan diambil dari Kitab Ramayana dan Mahabarata, melainkan dari Kitab Menak. Latar belakang cerita Menak adalah negeri Arab, pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam.

Walaupun tokoh ceritanya sebenarnya orang Arab, peraga Wayang Golek Menak diberi pakaian mirip dengan Wayang Kulit Purwa, antara lain dengan memberinya kuluk, sumping, jamang, dsb, walaupun jubah dan sorban Arab juga digunakan.

e. Wayang Klitik terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai Wayang Kulit Purwa. Hanya bagian tangan peraga wayang itu bukan dari kayu pipih melainkan terbuat dari kulit, agar lebih awet dan ringan menggerakkannya. Pada Wayang Klitik, cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya. Wayang ini diciptakan orang pada tahun 1648.

Pementasan Wayang Klitik juga diiringi oleh gamelan dan pesinden, tetapi tanpa menggunakan kelir sehingga penonton dapat melihat secara langsung.

f. Wayang Krucil sering dianggap sama dengan Wayang Klitik. Anggapan itu disebabkan karena Wayang Krucil juga terbuat dari kayu pipih. Yang berbeda benar adalah induk cerita yang diambil untuk lakon-lakonnya. Wayang Krucil mengambil lakon dari cerita Damarwulan, bukan dari Ramayana atau Mahabarata.

Baik Wayang Krucil maupun Wayang Klitik, saat ini sudah hampir punah.

g. Wayang Orang adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. Dari segi cerita. Wayang Orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. Pada mulanya, yakni pertengahan abad ke-18, semua penari Wayang Orang adalah penari pria, tidak ada penari wanita. Jadi agak mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur dewasa ini.

Dalam berbagai buku mengenai budaya wayang disebutkan. Wayang Orang diciptakan oleh Kangjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (1757 -1795). Para pemainnya waktu itu terdiri atas abdi dalem istana. Pertama kali Wayang Orang itu dipentaskan secara terbatas pada tahun 1760. Namun, baru pada pemerintahan Mangkunegara V pertunjukan Wayang Orang itu lebih memasyarakat, walaupun masih tetap terbatas dinikmati oleh kerabat keraton dan para pegawainya. Pemasyarakatan seni Wayang Orang hampir bersamaan waktunya dengan lahirnya drama tari Langendriyan.

Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916 -1944) kesenian Wayang Orang mulai diperkenalkan pada masyarakat di luar tembok keraton. Usaha memasyarakatkan kesenian ini makin pesat ketika Sunan Paku Buwana X (1893-1939) memprakarsai pertunjukan Wayang Orang bagi masyarakat umum di Balekambang, Taman Sri Wedari, dan di Pasar Malam yang diselenggarakan di alun-alun. Para pemainnya pun, bukan lagi hanya para abdi dalem, melainkan juga orang-orang di luar keraton yang berbakat menari.

Penyelenggaraan pertunjukan Wayang Orang secara komersial baru dimulai pada tahun 1922. Mulanya, dengan tujuan mengumpulkan dana- bagi kongres kebudayaan. Kemudian pada tahun 1932, pertama kali Wayang Orang masuk dalam siaran radio, yaitu Solosche Radio Vereeniging, yang mendapat sambutan hebat dari masyarakat.

Wayang Orang juga menyebar ke Yogyakarta. Pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (1877 -1921) keraton Yogyakarta dua kali mempergelarkan pementasan Wayang Orang untuk tontonan kerabat keraton. Waktu itu lakonnya adalah Sri Suwela dan Pregiwa – Pregiwati. Wayang Orang di Yogyakarta ini disebut Wayang Wong Matarama, Pakaian para penari Wayang Orang pada awalnya masih amat sederhana, tidak jauh berbeda dengan pakaian adat keraton sehari-hari, hanya ditambah dengan selendang tari. Baru pada zaman Mangkunegara VI (1881-1896), penari Wayang Orang mengenakan irah-irahan terbuat dari kulit ditatah apik, kemudian disungging dengan perada.

Sejalan dengan perkembangan Wayang Orang, terciptalah gerak-gerak tari baru yang diciptakan oleh para seniman pakar tari keraton. Gerak tari baru itu antara lain adalah sembahan, sabetan, lumaksono, ngombak banyu, dan srisig.

Karena ternyata kesenian Wayang Orang mendapat sambutan hangat dari masyarakat, bermunculanlah berbagai perkumpulan Wayang Orang; mula-mula dengan status amatir, kemudian menjadi profesional. Perkumpulan Wayang orang yang cukup tua dan terkenal, di antaranya Wayang Orang (WO) Sriwedari di Surakarta dan WO Ngesti Pandawa di Semarang. Wayang Orang Sriwedari merupakan kelompok budaya komersial yang pertama dalam bidang seni Wayang Orang. Didirikan tahun 1911, perkumpulan Wayang Orang ini mengadakan pentas secara tetap di ‘kebon raja’ yakni taman hiburan umum milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Patut juga dicatat peranan masyarakat keturunan Cina di Surakarta dan Malang, yang aktif mengembangkan kesenian Wayang Orang. Mereka tergabung dalam perkumpulan kesenian PMS (Perkumpulan Masyarakat Surakarta) yang secara berkala mengadakan latihan tari dan pada waktu-waktu tertentu mengadakan pementasan untuk pengumpulan dana dan amal.

Perkembangan seni Wayang Orang di Surakarta lebih bersifat populer dibandingkan di Yogyakarta. Kreasi seniman Surakarta untuk melengkapi pakaian tari Wayang Orang. mengarah pada ‘glamour’ dengan kemewahan tata panggung. Untuk pemeran tokoh wayang bambangan seperti Aijuna, Abimanyu, dan sejenisnya, digunakan penari wanita. Sedangkan di Yogyakarta tetap mempertahankan penari pria.

Di Jakarta, pada tahun 1960 – 1990, pernah pula berdiri beberapa perkumpulan Wayang Orang, di antaranya Sri Sabda Utama, Ngesti Budaya, Ngesti Wandawa, Cahya Kawedar, Adi Luhung, Ngesti Widada, Panca Murti, dan yang paling lama bertahan Bharata.

Pentas seni Wayang Orang juga melahirkan seniman-seniman tari yang menonjol, antara lain Sastradirun, Rusman, Darsi, dan Surana dari Surakarta; Sastrasabda dan Nartasabda dari Semarang; Samsu dan Kies Slamet dari Jakarta.

Masa suram

Pendudukan bala tentara Jepang di Indonesia sejak Maret 1942, telah mencompang campingkan berbagai jenis kesenian, termasuk wayang. Kontrol dan pengawasan yang ketat terhadap para dalang dan pergelarannya oleh Keimin Bunka Sidosho, Badan Urusan Kebudayaan Pemerintah Pendudukan Jepang. Pejabat-pejabat Jepang sering mengumpulkan para dalang untuk ‘dibina’ tentang cita-cita Asia Timur Raya. Selain itu, setiap pementasan selalu akan ada intel Jepang yang mengawasi. Namun yang menjadi penyebab utama merosotnya budaya wayang adalah keadaan ekonomi yang hancur, menyebabkan tidak ada orang yang mempunyai dana untuk menyelenggarakan pergelaran wayang. Akibatnya, sebagian dalang terpaksa beralih profesi.

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945, tidak otomatis dapat mengubah keadaan. Perang Kemerdekaan I dan II, serta suasana revolusi menyebabkan sebagian dalang memilih memegang bedil dan ikut berjuang melawan serdadu Belanda secara fisik daripada memegang cempurit untuk berjuang di bidang seni.

Masuknya teknologi hiburan ternyata cukup banyak berpengaruh pada minat orang untuk menikmati kesenian Wayang Orang di Indonesia. Hadirnya media televisi tahun 1962, pertunjukan film, bisnis penyewaan video kaset, serta drama modern yang tumbuh cukup pesat di masyarakat, telah mendesak perhatian masyarakat terhadap banyak budaya tradisional, termasuk juga kesenian Wayang Orang.

Mulai awal tahun 1980-an berbagai kelompok Perkumpulan Wayang Orang, mulai ditinggalkan penggemarnya. Hanya Sri Wedari di Surakarta, Ngesti Pandawa di Semarang, dan Bharata di Jakarta saja yang masih mencoba bertahan dalam keadaan sulit itu. Yang lain, satu persatu berguguran.

Di gedung pertunjukan Wayang Orang Sri Wedari, misalnya, pada tahun 1989 — dari sekitar 600 kursi penonton yang tersedia, seringkah hanya terisi belasan orang penonton. Begitu pula halnya dengan W.O. Ngesti Pandawa di Semarang. Terakhir perkumpulan Wayang Orang itu pun terancam bubar. Bantuan tambal sulam dari beberapa pemerintah daerah, tidak banyak menolong.

Di tahun 1992, hanya W.O. Bharata di Jakarta saja yang masih tetap dikunjungi penonton dalam jumlah yang lumayan. Pada malam Minggu, gedung pertunjukan Bharata hampir selalu full-house. Selain karena sebagai tontonan dan hiburan tradisional Jawa Bharata tidak lagi punya saingan, Pemerintah DKI Jakarta Raya masih tetap memberikan subsidi. Selama ini penghasilan dari penjualan karcis penonton belum dapat menjamin kehidupan layak bagi para seniman Wayang Orang.

Tercatat beberapa nama perkumpulan Wayang Orang yang pernah ada, tetapi kemudian ambruk, tidak sanggup bertahan. Di antaranya, Sri Sabda Utama, Ngesti Budaya, Cipta Kawedar, Cahya Kawedar, Panca Murti, Adi Luhung dan Ngesti Wandawa

h. Wayang Suluh tergolong wayang modern, karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan. Wayang ini dimaksudkan sebagai media penerangan mengenai sejarah perjuangan bangsa. Karena itu, di antara tokoh peraganya, antara lain terdapat Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Syahrir, dan Jenderal Sudirman. Penggambaran tokoh Wayang Suluh dibuat realistik.

Diduga, karena “beban” misi penerangan yang terlampau berat dan bahan cerita yang terlalu bersifat sejarah, membuat Wayang Suluh tidak dapat berkembang seperti diharapkan.

I. Wayang Wahyu mempunyai bentuk peraga wayang terbuat dari kulit, tetapi corak tatahan dan sung-gingannya agak naturalistik. Wayang ini mengambil lakon dari cerita Injil, baik Peijanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Bahasa pengantarnya, bahasa Jawa. Di antara lakonnya, antara lain adalah Samson lan Delilah, dan David lan Goliat.

Pergelaran Wayang wahyu hampir serupa dengan Wayang Kulit Purwa, diiring oleh seperangkat gamelan dan pesinden, kelir dan gedebog. Para dalangnya pun pada umumnya juga merangkap sebagai dalang Wayang Kulit Purwa.

Perkembangan Wayang Wahyu amat terbatas pada lingkungan masyarakat beragama Katolik, itu pun yang berasal dari suku bangsa Jawa. Padahal, tidak semua orang Jawa menyukai wayang. Dengan demikian Wayang Wahyu praktis tidak berkembang.

j. Wayang Gedog yang dicipta oleh Sunan Giri di tandai candra sengkala Gegamaning Naga Kinaryeng Bathara: 1485 caka (1568 M). Wayang ini amat mirip dengan Wayang Kulit Purwa, tetapi mengambil lakon dari cerita-cerita Panji. Itulah sebabnya, sebagian orang menamakan Wayang Gedog ini Wayang Panji. Di antara tokoh-tokoh ceritanya, antara lain adalah Prabu Lembu Hamiluhur, Prabu Klana Madukusuma, dan Raden Gunungsari.

Wayang ini, boleh dibilang sudah punah. Hanya sisa-sisa peraganya saja yang masih bisa dilihat di beberapa museum dan Keraton Surakarta.

 

k. Wayang Kancil, termasuk wayang moderen, diciptakan tahun 1925 oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem. Wayang yang juga terbuat dari kulit itu, menggunakan tokoh peraga binatang, dibuat dan disungging oleh Lie To Hien.

Cerila untuk lakon-lakon para Wayang Kancil diambil dari Kitab Serat Kancil Kridamartana karangan Raden Panji Natarata.

Wayang Kancil termasuk di antara jenis wayang yang tidak berkembang, meskipun seorang seniman, yakni Ledjar Subroto tetap berusaha mempopulerkannya.

l. Wayang Potehi menceritakan kisah-kisah dari negeri Cina, di antaranya Si Jin Kui, Sam Pek Eng Thay. Pertunjukan Wayang Potehi tidak diiringi oleh gamelan, melainkan sejenis musik yang disebut gubar-gubar, biola, dan tik-tok.

m. Wayang Kedek adalah nama Wayang Kelantan, Malaysia. Menurut J. Cuisinier Wayang Kelantan (Malaysia) berasal dari Jawa, dengan alasan bahwa repertoarnya dari Mahabarata versi Jawa dan siklus Panji. Menurut Van Stein Callenfels bahwa Wayang Kelantan berasal dari Jawa, lalu dibawa ke Thailand dan Kamboja. Wayang Kulit Thailand dibawa ke Kelantan sehingga keduanya memiliki bentuk wayang yang serupa.

Wayang Kelantan terbuat dari kulit sapi, dipahat dan disungging. Bentuk figurnya dilengkapi dengan pakaian, mahkota, senjata dan lain sebagainya. Bentuk figur Wayang Kedek pada umumnya tangan kiri menjadi satu dengan badannya, kecuali tokoh Pak Dogah (Semar) kedua tangannya dibuat bergerak (terlepas dari badannya). Di daerah Kelantan terdapat dua jenis wayang yakni: Wayang Melayu dan Nang Siam. Nang Siam juga disebut Wayang Kedek yang bentuk figurnya kena pengaruh dari Siam. Sedangkan Wayang Melayu teknis pertunjukannya, figurnya repertoar mengikuti tradisi Wayang Kulit Jawa maka disebut Wayang Jawa.

Repertoar Wayang Kedek mengambil dari serat Ramayana dan yang paling populer Hikayat Seri Rama versi Malaysia. Sedangkan wayang Jawa mengambil cerita dari Mahabarata, dan bagi orang melayu menyebut Hikayat Pendawa dan dari sikulus Panji. Perlengkapan pertunjukan hampir sama dengan Wayang Kulit Purwa Jawa yaitu menggunakan kele {kelir), lampu pelita (blencong Jawa), kepyak, kothak 1cempala Jawa). Penyajian Wayang Kedek diiringi ansambel musik yang instrumennya terdiri dari: seruni (suling), gedombak dan geduk (tambur), Lukmong (gong kecil) kecing/canang (gong). Sedangkan Wayang Melayu (Jawa) diiringi musik yang ricikkannya terdiri dari: satu rancak bonang horizontal, dua gendang, satu simbal, canang dan rebab.

Pertunjukan Wayang Kedek diselenggarakan untuk menyertai upacara lingkaran hidup manusia, dan penyajiannya dibuatkan tempat tersendiri yang disebut panggong. Sedangkan penontonnya di luar panggung, serta sebelum pertunjukan dimulai selalui diawali dengan upacara pembukaan yang disebut buka panggong, yaitu dalang melakukan penghormatan terhadap tanah, air dan api yang memiliki kekuatan gaib agar memberikan bantuan kepada dalang selama pementasan berlangsung. Pertunjukan Wayang Kedek yang menyertai upacara perkawinan, khitanan, kelahiran, panenan berlangsung selama 3 – 5 hari dimulai dari jam 21.00 dan berakhir pada jam 24.00. Pada malam akhir pertunjukan dilakukan upacara penutupan yang disebut Lepas Permainan.

Para penonton Wayang Kedek di Kelantan laki-laki dan perempuan selalu terpisah. Apakah itu suatu naluri kultus matahari dan bulan yang kuna atau hanya adat sopan santun yang lahir dari pengaruh Islam. Laki-laki di sisi kiri dan perempuan di sisi kanan, dan mereka duduk di luar panggung. Sebelum pertunjukan wayang di mulai, boneka wayang dijajar (di simping), di sebelah kanan di tancapkan boneka wayang dari kelompok dunia atas seperti para dewa Hindu beserta pengikutnya. Sedangkan di tengah layar ditancapkan tokoh To’ Mahasiku (dukun), Pohon Beringin (gunungan), Pa’ Dogah (Semar) dan raja Seri Rama.