Bahan Baku Pembuat Wayang Kulit

Bahan baku untuk membuat wayang kulit adalah kulit binatang, secara turun temurun sejak jaman madya hingga saat ini masih dilakukan. Binatang y,)ng kulitnya digunankan itu antara lain kerbau dan sapi. Kulit kerbau adalah bahan yang diutamakan, namun jika sukar diperolehnya, baru pemakaian kulit sapi dilakukan. Secara ilmiah kedua kulit binatang itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan kulit kerbau adalah tidak mudah kendor pada kelembaban sekelilingnya, tidak mudah melengkung (nglanthung) pada suhu sekeliling yang panas, tetapi kulit kerbau ini getas, karena jaringan kulitnya lebih kasar. Sedangkan kulit sapi akan melengkung dan kaku pada udara panas, jika berada di lingkungan yang lembab menjadi mudah kendor, hal tersebut berkaitan dengan kemampuan menyerap dan menguapkan uap air.
Kulit sapi memiliki keunggulan lebih ulet karena jaringannya halus dan lembut. Jika diperbandingkan antara kulit kerbau dan kulit sapi dari aspek kekuatan fisik dapat diketahui sebagai berikut. Aspek kekuatan tarik (Kg/cm2) Kulit kerbau 738, 60, sedangkan kulit sapi 714,26, Aspek kemuluran (%) kulit kerbau 25,96, sedangkan kulit sapi 27,17. Aspek kekakuan (kg/cm3) kulit kerbau 0,38, sedangkan kulit sapi 0,35. Aspek suhu kerut (°C), kulit kerbau 80,55, sedangkan kulit sapi 76,29 (Djajawidagdo. S, 1985: 17). Analisis tersebut membuktikan bahwa kulit kerbau memiliki kelebihan jika dipakai untuk bahan wayang kulit, yaitu kekuatan fisik lebih kuat (baik), khususnya berkaitan dengan kekakuan. Aspek kekakuan sangat dibu,uhkan dalam pembuatan wayang, karena untuk mempertahankan bentuk, sedangkan aspek suhu kerut berhubungan dengan ketahanan kulit terhadap suhu lingkungan. Di samping itu kulit kerbau dalam menyerap dan menguapkan uap air lebih rendah, ini berarti dalam waktu yang cukup lama tidak akan terpengaruh oleh kondisi lingkungan.
Kulit kerbau sebelumnya harus diolah terlebih dahulu agar dapal digunakan untuk pembuatan wayang kulit. Pengolahan kulit itu meliputi kegiatan-kegiatan penipisan kulit dan penurunan kadar air dalam kulit.

Untuk pengolahan kulit dapat dilakukan sebagai berikut.
a.  Penipisan kulit (ngerok kulit)
Bahan baku kulit kerbau yang diguanakan untuk membuat wayang kulit, umunya diambil/dibeli dari toko (pengumpul) sudah kenng akibat dari pengawetan dengan sinar matahari. Oleh karena itu dapat ditipiskan harus dibasahkan lagi dengan cara direndam dalam air lumpur selama 12 jam, namun jika mendapatkan kulit yang masih segar (basah) tidak perlu lagi direndam. Kulit yang telah lemas ini kemudian dipentang pada alat pementangan yang terbuat dari kayu atau bambu dengan ukuran sesuai dengan lebar kulitnya. Kulit itu direntangkan dengan menggunakan tali dengan cara melubangi semua bagian tepi kulit untuk tempat tali yang kemudian dikaitkan dengan pentangan kayu tersebut. Jika semua sisi kulit telah terkait dengan pentangan maka kulit itu akan terentang rata, kemudian diangin anginkan hingga kering. Kulit yang telah dikeringkan itu kemudian ditipiskan dengan menggunakan akt yang disebut kerokan atau pethel. Peralatan itu harus benar-benar tajam dengan cara penggunaannya harus tegak lurus dengan permukaan kulit. Penggoresan dilakukan searah, yaitu dari atas ke bawah, kegiatan ini akan menghasilkan kawul atau tatal hasil kerokan. Sistem penipisan kulit ini hampir sama dengan cara kerja menyerut kayu, yaitu menyayat kulit sedikit demi sedikit hingga mencapai ketebalan yang diinginkan. Kulit yang dikurangi seharusnya pada bagian dalam (bagian yang dulu menempel pada tubuh hewan), sehingga bagian luar hanya sedikit saja dikurangi, jika hal ini terbalik pada bagian nerp nya yang dikurangi lebih banyak akan berakibat kulit itu menjadi getas (mudah patah). Oleh karena itu kadang bagian laur hanya dihilangkang rambut-rambut dan wama hitamnya saja. Setelah mencapai ketebalan tertentu, setidaknya 1 mm untuk wayang ukuran kecil dan akan lebih tebal jika digunakan untuk wayang yang lebih besar ukurannya, se.anjutnya dilakukan penghalusan dengan diamplas. Jika kulit dirasa sudah halus di bagian luar dan bagian dalam, kemudian di bilas dengan air. Bila mcnginginkan kulit kerbau ini lebih kaku, setelah di haluskan permukaannya, kemudian permukaan kulit itu disiram dengan air panas, proses penipisan yang menggunakan air panas itu dinamakan Lulang Wedangan. Tetapi jika ingin menghasilkan kulit alami tidak perlu disiram air panas.
Selanjutnya kulit itu di keringkan pada sinar mata hari. Setelah ditipiskan kulit kerbau ini memiliki beberapa macam tampilan, ada yang bening keputihan, bening kemerahan, dan nggadung (tidak bening sama sekali).
Kulit kerbau yang telah selesai ditipiskan, jika telah kering kemudian diiris (diambil dari tempat pementangan). Caranya adalah mengiris bagian tepi kulit dan menyisakan antara 1 -5 cm, kadang bagian tepi yang artistik itu tidak diiris, tetapi mengambilnya dengan cara melepaskan semua tali disekeliling kulit itu. Setelah diambil dari pentangan kulit yang telah ditipiskan itu umumnya disebut dengan perkamen, kulit di gulung untuk disimpan.

b. Penurunan kadar air (pengeringan)
Kulit kerbau yang telah ditipiskan itu masih memiliki kadar air yang. tinggi, pada hal kulit yang dianggap baik bila telah memiliki kadara air mencapai 12 %. Oleh karena itu agar kulit itu siap digunakan untuk membuat wayang kulit dengan kualit&s baik, perlu diturunkan dadar airnya. Ada beberapa cara dalam menurunkan kadar air dari kulit ini, yaitu dengan ditarang, dan diolesi dengan pasta kapur sirih.
1). Ditarang
Kegiatan menurunkan kadar air dengan ditarang pada prinsipnya adalah menempatkan kulit di suatu tempat agar terjadi penguapan air. Oleh karena itu kulit yang akan diturunkan kadar airnya ditempatkan pada tempat yang panas dengan peredaran udara yang baik. Tempat itu adalah di atas perapian khusus atau di langit-langit dapur yang setiap hari untuk memasak, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang. Setelah ditarang sedikitnya 1 tahun barulah kulit itu berkualitas baik, karena kadar airnya telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Proses ini cukup lama, sehingga jika diperuntukan dalam kegiatan industri perlu manajemen yang memadahi berkaitan dengan efisiensi waktu. Pada umumnya kulit yang telah kering tidak sebening sebelum ditarang namun memiliki daya rekat yang tinggi jika dilakukan pewamaan.
2). Diolesi dengan pasta kapur sirih
Jika kulit yang baru saja ditipiskan ingin segera digunakan, ada cara instan untuk menurunkan kadar air, yaitu dengan menggunakan pasta kapur sirih. Cara untuk itu sebagai berikut. Kulit yang telah dilepas dari pentangan itu kedua permukaan (luar dan bagian dalamnya) diolesi dengan pasta kapur sirih, yang tebal dan merata hingga kulit tidak terlihat lagi. Setelah pasta kapur sirih itu mengering dan mulai lepas dari kulit yang ditempeli, berarti proses penurunan kadar air itu selesai. Untuk selanjutnya kulit dibersihkan, tetapi tidak dibenarkan menggunakan air. Secara kualitas penurunan kadar air dengan pasta kapur sirih ini masih belum sebaik dengan ditarang.
Penurunan kadar air untuk bahan kulit perlu dilakukan, karena bahan sangat menentukan keberhasilan karya yang dibuat. Dalam alam modem sekarang ini sudah saatnya memikirkan penggunaan peralatan yang berteknologi maju, sehingga kegiatan penurunan kadar air ini dapat dilakukan dengan waktu yang singkat. Mungkin dengan menggunakan mesin pengering yang dapat menghasilkan produk secara terukur, sehingga kualitasnya dapat terjamin.